Sei Nanjan – Ada keheningan yang cukup lama menyelimuti Desa Sei Nanjan (Batu Kuli), Kecamatan Katingan Hulu, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Selama beberapa waktu terakhir, kampung ini terasa sepi. Rumah-rumah kayu tertutup rapat, dan tawa anak-anak jarang terdengar menggemakan udara pedalaman.
Ke mana mereka?
Tuntutan hidup memaksa warga desa—termasuk anak-anak—untuk masuk jauh ke dalam hutan dan pesisir sungai. Mereka harus memanen padi di ladang dan mendulang emas, memeras keringat demi menyambung napas keluarga. Di pedalaman, bertahan hidup adalah perjuangan dari matahari terbit hingga terbenam. Hal ini membuat aktivitas Pelayanan Penginjilan dan Sekolah Hari Minggu (SHM) POS PI Sei Nanjan sempat terhenti.

Namun, Minggu Pagi yang Indah Itu Tiba…
Puji Tuhan! Hari ini, Minggu, 19 April 2026, tepat pukul 08.00 WIB, keheningan itu akhirnya pecah oleh nyanyian pujian yang menggema dari bibir-bibir kecil yang tulus. Warga telah kembali dari ladang dan tambang. Debu dan lumpur pekerjaan tergantikan oleh wajah-wajah yang berseri-seri menyambut hadirat Tuhan.
Di bawah bimbingan Ibu Ariani yang memimpin ibadah hari ini, serta didampingi dengan penuh kasih oleh Ibu Eni selaku Ketua POS PI Sei Nanjan, kegiatan Sekolah Hari Minggu kembali hidup.
Mata kami, para relawan misionaris Yayasan Damar Kasih Indonesia, berkaca-kaca melihat kehadiran enam jiwa berharga yang menjadi permata Tuhan di Sei Nanjan:
- Silva Ani Putri
- Siska Peronika
- Dera Kristi
- Jhona Hernoca
- Kamela
- Salma Cantika
Meski tangan dan kaki kecil mereka mungkin terbiasa membantu orang tua di ladang yang keras, pagi ini, tangan-tangan itu terangkat tinggi memuji kebesaran Bapa di Surga.
Tuhan yang Berjalan di Depan Kita
Firman Tuhan yang menjadi landasan ibadah pagi ini sangat menyentuh realitas hidup warga Sei Nanjan. Bacaan pertama diambil dari Ulangan 31:1-3, yang mengingatkan umat bahwa Tuhan Allah sendiri yang akan menyeberang di depan mereka. Pesan ini menguatkan warga desa: baik saat di ladang yang sunyi maupun di lokasi tambang emas yang penuh risiko, Tuhan selalu berjalan di depan keluarga-keluarga di Sei Nanjan.
Sementara itu, renungan pokok diambil dari Kitab Injil Markus 15:20-23, tentang Yesus yang dibawa untuk disalibkan. Penderitaan Kristus memikul salib menjadi pengingat yang kuat. Beratnya beban hidup, lelahnya mencari nafkah di pedalaman, adalah “salib” yang dipikul warga setiap hari. Namun, sama seperti Kristus yang taat hingga akhir, anak-anak ini diajarkan untuk tetap memiliki iman yang tangguh, tidak peduli sekeras apa pun badai kehidupan di pedalaman.

Mari Bergerak Bersama Kami
Melihat Silva, Siska, Dera, Jhona, Kamela, dan Salma bernyanyi hari ini adalah bukti bahwa terang Injil tidak akan pernah padam di pedalaman Kalimantan Tengah, meski harus berhadapan dengan himpitan ekonomi.
Saudara-saudari terkasih di mana pun Anda berada, ladang Tuhan di pedalaman ini sangat luas, namun pekerjanya sedikit. Doakan Ibu Ariani, Ibu Eni, dan seluruh tim Misionaris Volunteer Yayasan Damar Kasih Indonesia agar terus diberikan kekuatan, kesehatan, dan kesabaran dalam melayani jiwa-jiwa di pelosok negeri.
Mari dukung terus pelayanan kami! Jangan biarkan lonceng sekolah minggu di Sei Nanjan kembali terdiam. Bagikan kisah ini, biarkan dunia tahu bahwa di pedalaman rimba Kalimantan, ada bibir-bibir kecil yang tak henti memuji nama-Nya.
Video lengkap dapat dilihat pada akunt Facebook Damar Kasih Indonesia. (yes)
