Sei Nanjan – Ada pemandangan yang berbeda di Desa Sei Nanjan (Batu Kuli), Kecamatan Katingan Hulu, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah pada Minggu pagi ini, 19 April 2026. Di tengah sunyinya desa yang sering ditinggalkan warganya untuk mencari nafkah, sayup-sayup terdengar lantunan pujian tanpa iringan alat musik dari sebuah bangunan sederhana.

Hari ini adalah tonggak sejarah baru bagi pelayanan di pedalaman. Setelah sekian lama dirindukan, Ibadah Minggu Pagi Perdana Jemaat POS Pelayanan Injil (PI) Desa Sei Nanjan akhirnya dapat dilaksanakan!

Ibadah ini dilangsungkan tepat setelah kegiatan Sekolah Hari Minggu (SHM) pada pukul 09.30 WIB, dipimpin langsung oleh Ibu Eni Triani, S.Pd., seorang pelayan Tuhan yang setia dan penuh dedikasi selaku Ketua POS PI Desa Sei Nanjan.

Screenshot 2026 04 19 141350

Harus diakui, jemaat mula-mula yang hadir memang tidak banyak. Jangan bayangkan gedung gereja yang penuh sesak. Sebagian besar warga desa saat ini sedang berada jauh di dalam hutan dan sungai. Mereka sedang sibuk memanen padi di ladang dan mendulang emas untuk menyambung hidup keluarga. Memang, beginilah potret kehidupan masyarakat pedalaman Sei Nanjan; kerasnya perjuangan hidup membuat mereka jarang terlihat berdiam di kampung.

Namun, justru di situlah letak keharuannya. Bagi mereka yang bisa meluangkan waktu, berkumpul dan memuji Tuhan di Minggu pagi ini adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Syukur yang tak terhingga akhirnya mereka memiliki wadah persekutuan di desa mereka sendiri.

Screenshot 2026 04 19 141449

Jangan tanyakan soal fasilitas. Ibadah perdana ini berlangsung dengan sangat, sangat sederhana. Tidak ada denting keyboard atau petikan gitar, tidak ada pelayan Tuhan yang mengenakan stola, tidak ada atribut perlengkapan ibadah yang megah, dan bahkan tanpa kehadiran seorang Pendeta.

Namun, apakah ketidakhadiran fasilitas itu mengurangi kekhusyukan? Sama sekali tidak.

Saat bait-bait lagu dari Kidung Jemaat No. 54 dinyanyikan acapella dengan suara khas masyarakat pedalaman, rasanya hadirat Tuhan turun begitu nyata. Suara mereka mungkin tidak semerdu paduan suara di kota besar, tapi ketulusan hati mereka menggetarkan surga.

Screenshot 2026 04 19 141528

Dalam ibadah perdana ini, Ibu Eni Triani membagikan renungan firman Tuhan yang terambil dari Injil Lukas 24:13-35 (Kisah murid-murid di jalan ke Emaus).

Nas ini menjadi bahan pokok bahasan yang sangat relate dengan jemaat. Sama seperti dua murid yang berjalan dengan wajah muram dan kelelahan, warga pedalaman seringkali lelah dengan beratnya beban hidup, hasil panen, dan kerasnya pekerjaan di tambang. Namun Firman Tuhan mengingatkan: Yesus yang bangkit itu selalu berjalan bersama mereka. Mata hati mereka kini dibukakan untuk menyadari bahwa mereka tidak pernah sendirian berjuang di rimba Kalimantan.

Screenshot 2026 04 19 141559

Ada satu momen yang membuat kami, tim relawan Yayasan Damar Kasih Indonesia, meneteskan air mata bahagia. Dalam ibadah perdana ini, jemaat mula-mula sudah mulai mengenal dan memberikan persembahan syukur.

Dari hasil keringat mereka yang tak seberapa, dari sisa panen dan butiran emas yang mereka kumpulkan susah payah, mereka belajar memberi untuk pekerjaan Tuhan. Ini adalah wujud nyata dari iman yang bertumbuh.

Sahabat Damar Kasih di mana pun Anda berada, Perjalanan pelayanan di POS PI Sei Nanjan (Batu Kuli) baru saja dimulai. Mereka sangat membutuhkan dukungan doa dari kita semua agar jemaat ini terus bertumbuh, warga desa yang masih di ladang dan tambang bisa segera bergabung, dan kebutuhan pelayanan rohani di sana dapat tercukupi.

Screenshot 2026 04 19 141627

Mari jadikan kisah dari Sei Nanjan ini sebagai pengingat bagi kita yang berada di kota dengan segala fasilitas ibadah yang lengkap: Sudahkah kita bersyukur dan sungguh-sungguh memuji Tuhan hari ini?

(Bagikan artikel ini agar lebih banyak orang yang tergerak hatinya untuk mendoakan dan mendukung pelayanan penginjilan di pedalaman Kalimantan Tengah bersama Yayasan Damar Kasih Indonesia)

Video lengkap dapat dilihat pada akuntĀ Facebook Damar Kasih Indonesia. (yes)