Tumbang Sabetung – Di balik rimbunnya hutan tropis dan aliran sungai yang membelah Bumi Tambun Bungai, nyala pelita Injil terus dijaga agar tak pernah padam. Pagi itu, Minggu, 19 April 2026, udara di Desa Tumbang Sabetung, Kecamatan Katingan Hulu, Kabupaten Katingan, terasa begitu sejuk. Kabut tipis masih menyelimuti desa, namun langkah kaki kecil kerinduan umat Tuhan sudah mengarah ke satu titik: Pos Pelayanan Injil (Pos PI) Desa Tumbang Sabetung.
Sebagai bagian dari volunteer Yayasan Damar Kasih Indonesia, menyaksikan momen ibadah di pedalaman selalu memberikan keharuan tersendiri. Pagi itu, bangku-bangku kayu memang tidak terisi penuh. Kehadiran jemaat tidak sebanyak minggu-minggu biasanya, mungkin karena akses jalan yang menantang atau kesibukan warga desa di ladang. Namun, percayalah, Tuhan tidak pernah menghitung jumlah kepala untuk mencurahkan hadirat-Nya. Kesunyian itu justru melahirkan sebuah ibadah yang sangat hikmat dan menyentuh relung hati terdalam.

Ibadah pagi itu dipandu dengan penuh kehangatan oleh Ibu Novi Star Kristaliani, S.Pd. selaku Pemimpin Ibadah (Liturgos). Suaranya yang menggema di bangunan sederhana Pos PI seakan memanggil setiap jiwa untuk berfokus hanya kepada Kristus. Pujian penyembahan dinaikkan tanpa alat musik yang mewah, hanya bermodalkan suara tulus dan tepukan tangan yang memecah keheningan hutan Katingan.

Suasana semakin syahdu ketika firman Tuhan dari Mazmur 23 dibacakan dengan lantang oleh Saudari Merry Susanti. Janji Tuhan sebagai Gembala yang Baik seakan menjadi embun penyegar bagi jemaat yang hidup dalam keterbatasan fasilitas di pedalaman. “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku…” Kalimat itu menggema, menguatkan hati setiap misionaris dan jemaat lokal yang hadir.

Sebagai bentuk syukur atas pemeliharaan Tuhan, jemaat memberikan persembahan terbaik mereka yang diiringi dengan doa persembahan yang dipimpin oleh Saudara Andrio Andiseven. Di sinilah kita belajar, bahwa memberi dari kekurangan adalah bentuk iman yang paling murni.
Dengan gaya bahasa yang sederhana namun tegas, Bapak Uan mengingatkan kita semua—baik jemaat di Tumbang Sabetung maupun kita yang berada di kota-kota besar.

Screenshot 2026 04 19 163219
“Ibadah yang sejati bukanlah tentang seberapa besar gedung gereja kita, seberapa merdu paduan suara kita, atau seberapa ramai bangku yang terisi. Ibadah yang sejati adalah tentang hati yang hancur dan berserah di hadapan Tuhan. Pagi ini, meski kita sedikit, jika hati kita sepenuhnya tertuju pada-Nya, maka inilah ibadah yang sejati itu,” ucap Bapak Uan yang disambut dengan keheningan penuh makna dari jemaat.
Khotbah ini menjadi tamparan kasih bagi kita semua. Di tengah kesederhanaan Tumbang Sabetung, mereka mengajarkan kepada dunia bahwa esensi kekristenan adalah hubungan pribadi dengan Tuhan, bukan sekadar rutinitas agama.
Ibadah diakhiri dengan doa berkat. Meski jumlah jemaat tak seberapa, namun semangat yang dibawa pulang bernilai kekal. Tim misionaris Yayasan Damar Kasih Indonesia kembali diingatkan mengapa kami berada di sini: untuk merengkuh mereka yang jauh, dan melayani mereka yang sering tak terlihat oleh mata dunia.
Saudara-saudari terkasih, pelayanan di pelosok Kalimantan Tengah masih membutuhkan banyak dukungan. Mari doakan Pos PI Desa Tumbang Sabetung, doakan Bapak Uan A. Narang beserta seluruh pelayan Tuhan di sana, agar mereka senantiasa diberi kesehatan dan keteguhan iman.
Bagi Anda yang rindu mengambil bagian dalam pelayanan misi pedalaman bersama Yayasan Damar Kasih Indonesia, pintu kami selalu terbuka. Mari bersama-sama menjadi perpanjangan tangan Tuhan, membawa terang Injil hingga ke ujung bumi.
Tuhan Yesus memberkati kita semua.
Bantu kami membagikan kisah ini ke media sosial Anda, agar semakin banyak hati yang tergerak untuk mendoakan dan mendukung pelayanan di pedalaman Kalimantan Tengah.
Video lengkap dapat dilihat pada akunt Facebook Damar Kasih Indonesia. (yes)
