TUMBANG MANANGEI – Pagi itu, Jumat 18 September 2026, jarum jam baru menunjuk pukul 08.00 WIB. Saat embun dan kabut tipis masih menyelimuti belantara Kalimantan Tengah, sebuah kehangatan yang luar biasa sudah terasa di salah satu ruang kelas SDN Tumbang Manangei.

Sebagai relawan misionaris dari Yayasan Damar Kasih Indonesia (YDKI), momen-momen seperti ini adalah “bayaran” termahal yang tak bisa dinilai dengan uang. Melihat langsung bagaimana iman bertumbuh di pelosok negeri membuat hati ini tak henti-hentinya bersyukur.

Hari itu adalah jadwal Pendidikan Agama Kristen (PAK). Ruangan sederhana itu dipenuhi oleh kehadiran pahlawan tanpa tanda jasa kebanggaan kami, Ibu Hamnie, beserta jiwa-jiwa kecil pilihan Tuhan.

Momen paling menggetarkan hati dimulai saat Denis Imanuel melipat tangan mungilnya dan memimpin doa pembuka. Kepolosannya saat berbicara kepada Tuhan benar-benar terasa menembus langit. Setelah itu, ruangan bergetar oleh pujian penyembahan yang dipimpin dengan penuh semangat oleh Milka. Tanpa iringan alat musik yang megah, suara mereka sudah cukup untuk membuat paduan suara surga ikut tersenyum.

Ibu Hamnie kemudian membawa anak-anak menyelami kebenaran Firman Tuhan dengan tema “Kejatuhan Manusia Dalam Dosa #2”. Untuk memberikan secercah pengharapan dari kejatuhan itu, beliau membacakan Nats Alkitab dari Lukas 13:10-17 tentang Yesus yang menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Pesannya sangat kuat dan relevan: Meski manusia jatuh dan tak berdaya, kuasa pemulihan dan belas kasih Kristus selalu hadir menembus segala batasan. Serta Kitab Kejadian 2:15-22 (Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu). Ibu Hamnie mengajarkan bahwa Allah bukan sekadar pencipta, tapi juga penyedia yang memelihara kehidupan. Sebelum manusia diciptakan, Allah sudah menyediakan segalanya (Taman Eden, air, udara, tumbuhan). Tugas merawat ciptaan Tuhan tidak hanya diberikan kepada Adam dan Hawa, tapi kepada kita semua. Ibu Hamnie memberikan teguran keras namun mendidik agar anak-anak tidak membuang sampah ke sungai dan tidak merusak hutan. Guru sangat cerdas mengaitkan firman Tuhan dengan kehidupan warga lokal. Ia mengajarkan bahwa boleh menebang pohon untuk berladang (berpindah), namun harus ditanami kembali (seperti menanam padi/sayur) agar alam tidak rusak dan Tuhan tidak marah.

Di tengah kesederhanaan, ketulusan mereka kembali bersinar saat kantong persembahan syukur diedarkan oleh tangan kecil Queena Kaiysa. Mereka memberi bukan dari kelimpahan, melainkan dari hati yang murni.

Walaupun peserta yang hadir pagi itu terbilang mungil dalam jumlah, semangat mereka jauh lebih besar dari keterbatasan pelosok daerah. Mari sejenak kita doakan mereka, generasi penerus gereja dari pedalaman ini:

  • Kelas 1: Queena Kalista & Sandi
  • Kelas 2: Milka & Danil
  • Kelas 3: PinaWhatsApp Image 2026 09 18 At 08.07.21 (1)

Pertemuan suci pagi itu akhirnya ditutup dengan doa pulang yang penuh berkat oleh Ibu Hamnie, melepas anak-anak kembali dengan damai sejahtera, anak-anak diajak berdiri dan dengan penuh sukacita menyanyikan lagu Sekolah Minggu “Happy Ya Ya Ya (Saya senang jadi anak Tuhan)”.

Teman-teman, pelayanan di pedalaman bukan sekadar tentang datang dan mengajar. Ini tentang merawat nyala api pengharapan agar tidak padam oleh keterpencilan.

Tolong bantu sebarkan kisah kebaikan ini. Biarkan dunia tahu bahwa di pelosok rimba Kalimantan Tengah, ada kasih Tuhan yang bekerja luar biasa lewat Yayasan Damar Kasih Indonesia (YDKI). Dukung kami dalam doa, dan mari bersama-sama menjadi perpanjangan tangan Tuhan!
Video lengkap dapat dilihat pada akunt Facebook Damar Kasih Indonesia(yes)