Pada Minggu, 21 Desember 2025, perjalanan misionari Tim Yayasan Damar Kasih Indonesia (YDKI) di Desa Tumbang Mahup dilanjutkan dengan berbagai aktivitas yang sarat makna pelayanan dan kebersamaan. Sejak pagi hari, hingga sekitar pukul 07.00 WIB, tim YDKI melakukan jalan-jalan keliling kampung Desa Mahup, menyapa warga serta berdialog langsung dengan beberapa penduduk dan tokoh masyarakat setempat.
Salah satu pertemuan penting terjadi dengan Bapa Itop (Pak Lumping J Kena , S. Pd.) tokoh masyarakat Tumbang Mahup. tim YDKI bertemu juga dengan Bapa Rasi (Pak Wandy, S.Pd.) perwakilan dari desa tetangga, yaitu Desa Mandu / Tumbang Manangei. Dalam suasana perbincangan yang hangat dan penuh keterbukaan, dibahas rencana pelayanan Tim YDKI untuk masuk dan melayani di Desa Mandu (Tumbang Manangei) pada bulan April 2026. Rencana ini menjadi langkah awal membangun kerja sama dan membuka pintu pelayanan rohani yang lebih luas di wilayah tersebut.

Ibadah Minggu Pagi di GKE Tumbang Mahup
Pukul 08.00 WIB, Ibadah Minggu Pagi Jemaat GKE Tumbang Mahup dimulai dengan penuh khidmat. Ibadah ini dipimpin oleh Vikaris Akhirno, S.Th., dengan liturgus Riki, seorang mahasiswa magang dari STT Banjarmasin. Kehadiran jemaat yang cukup banyak menunjukkan kerinduan umat untuk bersekutu dan dikuatkan melalui firman Tuhan.
Renungan firman Tuhan dalam ibadah tersebut mengangkat tema yang menggugah hati:
“Apakah Natal merupakan sesuatu yang menggembirakan atau justru sesuatu yang menyedihkan?”
Dalam khotbahnya, Vikaris Akhirno, S.Th. mengajak jemaat melihat Natal bukan hanya sebagai perayaan penuh sukacita, tetapi juga sebagai kisah pengorbanan dan penderitaan. Dijelaskan bahwa Maria, ibu Yesus, dalam kondisi hamil tua, harus menempuh perjalanan yang sangat jauh—sekitar 200 kilometer—untuk mengikuti sensus, bukan dengan kendaraan nyaman seperti mobil Avanza, Innova, atau Fortuner, melainkan dengan menunggang seekor keledai. lahir bukan di tempat yang mewah/istana, tapi dikandang hewan ternak. tidak ada tempat yang layak untuk menginap, tapi hanya di dalam kandang hewan peliharaan.
Lebih dari itu, pada masa tersebut terdapat aturan sosial yang keras: seorang perempuan yang hamil di luar pernikahan dapat dihukum, dan Maria bahkan berada dalam situasi hampir ditinggalkan oleh tunangannya, Yusuf. Semua realitas ini menunjukkan bahwa kelahiran Yesus tidak diawali dengan kemewahan, melainkan dengan kerendahan, risiko, dan penderitaan.
Melalui khotbah ini, jemaat diajak untuk memahami bahwa Natal sejati adalah tentang kasih Allah yang rela turun ke dalam penderitaan manusia, agar manusia memperoleh keselamatan. Natal bukan sekadar pesta dan kegembiraan lahiriah, tetapi peristiwa kasih yang mahal dan penuh pengorbanan.

Kebersamaan yang Menguatkan Pelayanan
Ibadah Minggu pagi ini diikuti dengan antusias oleh jemaat GKE Tumbang Mahup, dan menjadi momen penguatan iman bagi seluruh yang hadir, termasuk Tim Yayasan Damar Kasih Indonesia. Setelah ibadah, tim kembali berinteraksi dengan warga serta bertemu kembali dengan Bapa Rasi (Pak. Wandy, S.Pd.), tokoh masyarakat dari wilayah Desa Mandu / Tumbang Manangei, sebagai bagian dari penguatan relasi dan komunikasi pelayanan ke depan.

Rangkaian kegiatan pada hari itu menegaskan bahwa kehadiran YDKI di Desa Tumbang Mahup bukan hanya untuk menjalankan agenda, tetapi untuk mendengar, berjalan bersama, dan menanam benih pelayanan yang berkelanjutan, demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan umat.(yes)
