Minggu, 10 Mei 2026 — Pagi buta di pedalaman Kalimantan Tengah masih diselimuti kabut tipis di atas riam sungai yang tenang. Namun, di sebuah rumah panggung sederhana yang menjadi Pos Pelayanan Injil (Pos PI) Desa Tumbang Sabetung, gelak tawa dan suara riuh anak-anak sudah memecah hening. Sepuluh anak Sekolah Hari Minggu (SHM)—Pras, Aldi, Jondrio, Tayo, Mario, Melky, Winny, Jelsi, Jihan, dan Raffa—berkumpul dengan mata berbinar, siap mengalami sukacita bersama Tuhan.

Di bawah koordinasi Ibu Lili, seorang misionaris relawan yang penuh kasih, anak-anak itu diajak bukan sekadar duduk manis. Begitu musik rohani dari gitar kecil dan tepukan tangan dimulai, mereka berdiri, bernyanyi, dan berjoget dengan polosnya. Keringat kecil membasahi dahi, tapi senyum mereka tak luntur. “Yesus pokok dan kita ranting-Nya,” begitu lantunan sederhana yang mereka serukan diiringi tarian khas Dayak yang riang.

Setelah pujian reda, Ibu Lili mengumpulkan mereka dalam lingkaran. Saatnya mendengar cerita Alkitab. Bacaan pagi itu diambil dari Roma 4:6-13, yang mengisahkan tentang iman Abraham dan kebahagiaan pengampunan dosa. Dengan bahasa yang sederhana, Ibu Lili menjelaskan, “Daud berkata, berbahagialah orang yang diampuni dosanya, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan. Itu bukan karena kita hebat, tapi karena kita percaya kepada Yesus, seperti Abraham yang percaya dan dibenarkan Tuhan. Adik-adik, kalau kita percaya Yesus, dosa kita diampuni dan kita jadi anak-anak terang!”

Anak-anak mendengarkan dengan antusias, sesekali mengangguk. Jihan, yang biasanya pendiam, tiba-tiba bertanya, “Bu, berarti Abraham diselamatkan bukan karena sunat, tapi karena percaya?” Pertanyaan lugu itu disambut senyum haru Ibu Lili. Benih iman sedang bertumbuh di hati mereka.

Untuk menanamkan sikap hati yang benar, Ibu Lili kemudian membawa mereka pada Amsal 3:7-8: “Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.” Pokok bahasan ini digabungkan dengan nas sebelumnya: jika kita sudah diampuni karena percaya, kita harus hidup rendah hati, tidak sombong, dan takut akan Tuhan. Ibu Lili menggambarkan bahwa takut akan Tuhan itu seperti kita menghormati dan mengasihi orang tua, tapi lebih dalam—yaitu menjauhi dusta, bertengkar, dan malas berdoa. “Kalau Adik-adik jaga hati, jauh dari yang jahat, tubuh pun sehat, tulang kuat! Itu janji Tuhan,” katanya sambil menunjuk tulang lengan Raffa yang mungil. Raffa, si bungsu yang baru berusia lima tahun, tertawa kecil sambil meraba tulangnya sendiri.

Momen paling mengharukan terjadi saat sesi membaca Alkitab bersama. Anak-anak bergantian mengeja ayat Amsal 3:7-8 dari Alkitab siang itu. Meski beberapa masih terbata-bata—seperti Melky yang baru kelas dua SD—semangat mereka melafalkan firman Tuhan seolah menjadi melodi kemenangan. Pras dengan lantang membaca, “Jangan menganggap dirimu sendiri bijak…” dan langsung menyahut, “Aku nggak mau sombong, Bu!” Seisi ruangan terkekeh.

Kemudian tiba saat doa. Dengan tangan terlipat, satu per satu nama anak disebutkan. “Tuhan, jaga Pras, Aldi, Jondrio, Tayo, Mario, Melky, Winny, Jelsi, Jihan, dan Raffa. Biarkan mereka bertumbuh dalam iman, menjadi anak yang percaya seperti Abraham, dan belajar takut akan Engkau seumur hidup mereka. Jauhkan dari sakit-penyakit, berkati keluarga mereka di Tumbang Sabetung.” Hening sejenak, lalu suara amin anak-anak meledak bersama.

Seusai doa, Mario dan Tayo saling berpegangan tangan menyanyikan lagu penutup. Ada kehangatan yang tak bisa diungkapkan kata-kata. Di tengah keterbatasan akses—jalan tanah berlumpur, sinyal telepon yang nyaris tak ada, listrik yang hanya menyala malam—iman mereka benderang. Mereka adalah bukti bahwa firman Tuhan menjangkau ujung-ujung bumi, bahkan ke desa terpencil di Kalimantan Tengah.

Ibu Lili menutup kegiatan dengan pesan, “Ingat ya, kalian sudah diampuni karena percaya Yesus. Jangan sombong, takutlah Tuhan, dan berkat kesehatan akan mengikuti.” Anak-anak pulang ke rumah masing-masing di sepanjang pinggiran sungai, membawa cerita dan sukacita yang akan mereka ceritakan kepada orang tua.

Bagi kami di Yayasan Damar Kasih Indonesia, setiap Minggu adalah pertempuran kasih: mendoakan agar semakin banyak hati anak pedalaman mengenal Kristus. Kami merindukan dukungan doa dan kasih dari Anda semua. Jika Anda tergerak oleh pelayanan ini, bagikan kisah ini agar semakin banyak yang tahu bahwa di Tumbang Sabetung, sepuluh anak kecil sedang belajar menjadi pewaris janji iman seperti Abraham. Doakan Pos PI Desa Tumbang Sabetung, Ibu Lili, dan kesepuluh anak SHM. Kunjungi website Yayasan Damar Kasih Indonesia untuk informasi donasi dan relawan. Bersama kita bawa terang ke pedalaman.

“Sebab bukan karena hukum Taurat janji itu diberikan kepada Abraham dan keturunannya, tetapi karena kebenaran berdasarkan iman.” (Roma 4:13)

Video lengkap dapat dilihat pada akunt Facebook Damar Kasih Indonesia. (yes)