Tumbang Mangketai, Kalimantan Tengah – Pagi itu, hutan hujan tropis yang biasanya hanya diramaikan oleh suara burung dan rimbunan daun, tiba-tiba bergema dengan suara riang dan tepuk tangan riuh. Minggu, 10 Mei 2026, bukan sekadar hari biasa di pedalaman ini. Langit kecil di atas Desa Tumbang Mangketai seolah ikut bernyanyi.
Minggu pagi itu, sebuah “konser rohani” sederhana namun dahsyat terjadi. Bukan di gedung megah dengan lampu sorot, melainkan di tenda sederhana Pos Pelayanan Injil. Tangan-tangan mungil berjoget, kaki-kaki kecil menghentak tanah, dan mulut-mulut polos melantunkan puji-pujian. Siapakah mereka? Mereka adalah 14 anak hebat peserta Sekolah Hari Minggu (SHM) Pelayanan Penginjilan yang dikoordinir oleh seorang pahlawan tanpa tanda jasa, Ibu Margemini.

“Jangan lihat tempat kami. Lihatlah api di hati kami!” seru Ibu Margemini sambil menyeka peluh di kening. Beliau dengan penuh semangat memimpin langsung kegiatan yang luar biasa ini.
Dengan dukungan Yayasan Damar Kasih Indonesia, anak-anak ini diajak untuk mengalami firman Tuhan secara nyata. Bukan hanya duduk diam, tapi BERNYANYI, BERJOGET, MENDENGARKAN CERITA ALKITAB, MEMBACA ALKITAB, DAN BERDOA dengan hati yang meluap-luap.
Siapa saja mereka? Ini dia nama-nama pemberani yang membuat surga bersorak pagi itu:
- Jumita
- Desmiaty
- Arra Yesika
- Ramzi
- Ramli
- Naomi
- Yaldi
- Rio
- Arsy
- Mia Kristiani
- Ardy Gabriel
- Naomi
- Winona Lidya Zanara
- Clarisa Oktavina
Apa yang membuat pagi itu begitu viral? Firman yang dibacakan adalah Mazmur 66:8-20 dengan perikop: “Nyanyian Syukur Karena Orang Israel Tertolong.”
Ayat 12 menjadi klimaks yang membuat beberapa relawan menangis haru: “Engkau membiarkan orang-orang melintasi kepala kami, kami telah menempuh api dan air; namun Engkau telah membawa kami ke tempat yang lega.”
Anak-anak itu mendengarkan dengan mata berbinar. Mereka membaca sendiri dari Alkitab yang telah usang. Lalu mereka berdoa. Bukan doa yang panjang dan rumit, tapi doa anak hutan yang polos: “Tuhan, terima kasih untuk sungai yang tidak banjir minggu ini, untuk beras yang masih ada, dan untuk cerita tentang Engkau yang selamat sampai ke sini.”
Mengapa Cerita Ini Bisa Viral di Seluruh Sosial Media?
Karena di tengah gemerlap konten dansa dan prank, ada momen suci seperti ini. Di tengah hiruk pikuk kota yang sibuk mementingkan diri, ada 14 anak di Kalimantan Tengah yang berjoget karena mereka tahu Tuhan telah menolong mereka.
Momen ketika Ibu Margemini menangis haru karena melihat Ramli dan Ramzi bersaudara yang biasanya pemalu, tiba-tiba memimpin joget sukacita. Momen ketika Winona Lidya Zanara yang masih kecil membacakan Mazmur 66:20 dengan lantang: “Terpujilah Allah, karena Ia tidak menolak doaku…”

Yayasan Damar Kasih Indonesia mengajak Anda untuk tidak hanya membaca, tapi BERTINDAK.
Kami tidak punya studio mahal atau panggung besar. Kami hanya punya nyala api kecil di tengah hutan. Tapi dengan bantuan Anda, api ini bisa menjadi terang yang menyelamatkan.
Mari buat suara anak-anak pedalaman ini terdengar sampai ke ujung dunia!
“Terpujilah Allah, karena Ia tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku.” (Mazmur 66:20)
Yayasan Damar Kasih Indonesia – Menyalakan Pelita di Pedalaman.
Video lengkap dapat dilihat pada akunt Facebook Damar Kasih Indonesia. (yes)
