Minggu pagi ini, 06 September 2026, tepat pukul 10.30 WIB, kami melangsungkan ibadah kebaktian persekutuan di Pos PI Tumbang Mangketai. Tempatnya sangat sederhana. Bangunan berdinding kayu semi-terbuka, lantai papan yang bersahaja, dan sebuah meja panjang berbalut kain kuning menjadi pusat persekutuan kami.

Pemandangan ini terekam jelas dalam di mana anak-anak pedalaman duduk tenang di lantai dan di balik meja. terlihat para ibu yang dengan setia memangku balita mereka sambil membuka Alkitab, menyimak setiap firman yang dibagikan.

Ada satu hal yang membuat Kebaktian Persekutuan hari ini begitu istimewa dan mengharukan: dedikasi seorang pelayan Tuhan bernama Yuvita. Di tengah keterbatasan pekerja, Yuvita mengambil peran ganda yang luar biasa. Ia berdiri di balik mimbar sederhana sebagai Liturgus, menyampaikan firman sebagai Pengkhotbah, dan sekaligus memandu syafaat sebagai Pemimpin Doa.

Pesan firman Tuhan yang dibawakan Yuvita hari ini diambil dari Matius 18:15-20. Dalam Alkitab, perikop ini sering diberi judul “Menasihati sesama saudara”.

Berikut adalah esensi dari nats yang sangat menguatkan jemaat pedalaman ini:

  • Merawat Relasi dan Rekonsiliasi (Ayat 15-17): Tuhan Yesus mengajarkan langkah-langkah praktis dan penuh kasih dalam menyelesaikan konflik antar saudara seiman. Dimulai dari teguran empat mata, membawa saksi, hingga melibatkan jemaat. Tujuannya bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memenangkan kembali hati saudara kita dan menjaga kekudusan serta kedamaian komunitas.

  • Kuasa Kesepakatan dan Doa Bersama (Ayat 18-19): Kristus memberikan otoritas kepada jemaat-Nya dan menegaskan bahwa ketika dua orang saja di bumi sepakat meminta apapun dalam doa, Bapa di surga akan mengabulkannya. Ini adalah janji yang luar biasa bagi komunitas kecil.

  • Jaminan Kehadiran Tuhan (Ayat 20): “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Ayat ke-20 inilah yang menjadi air kehidupan bagi Jemaat Pos PI Tumbang Mangketai. Kami mungkin tidak berjumlah ratusan atau ribuan. Jemaat yang hadir hari ini hanyalah beberapa ibu dan anak-anak kecil. Namun, firman Tuhan menegaskan bahwa kuantitas bukanlah syarat kehadiran-Nya. Di gubuk kayu Tumbang Mangketai ini, Tuhan Yesus hadir bertahta di tengah-tengah kami.

1

Pelayanan di pedalaman bersama YDKI mengajarkan bahwa gereja bukanlah soal kemegahan gedung, melainkan keikhlasan hati yang mau bersekutu. Dedikasi hamba Tuhan seperti Yuvita adalah bukti bahwa ladang pelayanan tidak pernah kekurangan penuai yang tangguh.

Mari doakan terus pelayanan YDKI dan pos-pos PI di seluruh pedalaman Indonesia! Bagikan kisah ini agar lebih banyak orang terberkati dan melihat bahwa terang kasih Tuhan mampu menembus hingga ke pelosok negeri.

Video lengkap dapat dilihat pada akunt Facebook Damar Kasih Indonesia(yes)