TUMBANG MANGKETAI – Pagi ini, Minggu, 30 Agustus 2026, matahari bersinar terik menembus celah-celah dedaunan raksasa hutan Kalimantan Tengah. Jarum jam tepat menunjuk pukul 10.00 WIB. Tidak ada suara bising kendaraan atau sirine kota, yang ada hanya paduan suara serangga hutan dan sayup-sayup nyanyian pujian dari sebuah kapel kayu sederhana tempat kami, para relawan Yayasan Damar Kasih Indonesia (YDKI), beribadah bersama saudara-saudara terkasih di pedalaman.

Hari ini bukan sekadar rutinitas ibadah minggu. Ada sebuah teguran keras namun menguatkan yang Tuhan titipkan untuk kami semua.

Ibadah dipandu dengan penuh kehangatan oleh Ibu Margemini sebagai liturgus, membawa suasana persekutuan ini terasa begitu dekat seperti keluarga. Namun, momen yang paling meremukkan hati adalah ketika Ibu Yuvita memimpin doa syafaat. Suaranya bergetar, mendoakan setiap keluarga di pedalaman ini, mendoakan pelayanan YDKI, dan memohon kekuatan agar kami tidak menyerah pada tantangan alam dan keterbatasan. Air mata rasanya sulit ditahan saat mendengar ketulusan doa di tengah kesederhanaan ini.

Screenshot 2026 08 30 154101

Sebagai pelayan firman, Ibu Margemini kemudian naik ke mimbar dan membawakan kebenaran firman Tuhan dari Matius 16:21-28.

Sebuah nats yang mungkin sering kita dengar, tetapi memiliki resonansi yang sama sekali berbeda ketika dibacakan di tengah hutan. Di bagian ini, Yesus memberitahukan penderitaan-Nya kepada para murid. Petrus, dengan kasih manusianya, mencoba mencegah Yesus. Namun teguran Yesus begitu keras: “Enyahlah Iblis… Engkau memikirkan bukan yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Lalu, Yesus memberikan syarat mutlak mengikut Dia: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Di mimbar kayunya, Ibu Margemini menjelaskan kebenaran ini dengan sebuah analogi yang sangat membumi:

  • Menyangkal Diri: Seperti Petrus yang menginginkan “kemuliaan tanpa penderitaan”, kita pun sering kali menginginkan kehidupan Kristen yang nyaman, tanpa ujian. Bagi kami di YDKI dan warga pedalaman, menyangkal diri berarti melepaskan hak atas kenyamanan, rela melewati jalanan tanah liat yang licin dan berlumpur, demi menjangkau satu jiwa.

  • Memikul Salib: Salib bukanlah sekadar pajangan emas di leher. Salib adalah penderitaan yang kita pikul dengan sukarela demi ketaatan kepada Kristus. Kelelahan fisik, rindu pada keluarga di seberang pulau, dan keterbatasan sinyal di pedalaman ini adalah “salib-salib kecil” yang kami peluk dengan sukacita.

  • Kehilangan Nyawa untuk Mendapatkannya: Terkadang kita sibuk mengamankan “nyawa” kita—harta, ego, gengsi, kenyamanan hidup. Padahal, saat kita melepaskan semuanya untuk melayani Tuhan dan sesama, justru di situlah kita menemukan makna hidup yang sejati.

Tatap mata jemaat yang hadir hari ini menyiratkan satu hal: kekuatan. Mereka yang hidupnya bergantung pada alam, yang setiap hari berjuang untuk bertahan, sangat mengerti apa artinya memikul salib kehidupan. Dan kami, para relawan YDKI, kembali diingatkan mengapa kami ada di sini.

Sahabat di mana pun kalian berada, mungkin salibmu saat ini bukan berupa jalanan berlumpur di pedalaman atau gigitan nyamuk malaria. Mungkin salibmu adalah pekerjaan yang menguras air mata, keluarga yang sedang retak, atau pelayanan di gereja kotamu yang terasa sepi apresiasi.

Screenshot 2026 08 30 154020

Apapun salibmu hari ini, pikullah dengan setia. Jangan seperti Petrus yang mencoba mencari jalan pintas yang nyaman. Sebab di ujung jalan salib itu, ada kemuliaan Kristus yang menanti.

Bantu kami terus mendoakan pelayanan Yayasan Damar Kasih Indonesia (YDKI) di pedalaman Kalimantan Tengah ini. Biarlah terang Kristus terus menyala, sekecil apapun lilin yang kami bawa.

Video lengkap dapat dilihat pada akunt Facebook Damar Kasih Indonesia(yes)