TUMBANG MANANGEI – Pagi itu, 27 Agustus 2026, jarum jam baru saja menunjuk pukul 07.00 WIB. Kabut tipis masih menyelimuti rimbunnya hutan pedalaman Kalimantan Tengah, namun denyut kehidupan dan semangat memuliakan Tuhan sudah bergemuruh dari sebuah ruang kelas sederhana di SD Negeri Tumbang Manangei. Sebagai relawan misionaris Yayasan Damar Kasih Indonesia (YDKI), hati saya selalu bergetar melihat pemandangan ini. Di tengah keterbatasan akses dan fasilitas, nyala api iman anak-anak ini justru bersinar paling terang.
Hari itu adalah jadwal persekutuan Pendidikan Agama Kristen (PAK). Hanya ada delapan siswa yang hadir, melintasi jalanan tanah dan embun pagi untuk duduk bersama mendengar firman. Mereka adalah Queena Kalista dan Sandi yang masih duduk di kelas 1, si kecil Milka dan Danil dari kelas 2, Pina dari kelas 3, Arsa dari kelas 4, serta dua sosok kakak kelas yang penuh tanggung jawab dari kelas 5, Denis Imanuel dan Elsa.
Persekutuan pagi ini dibuka dengan kepolosan yang menyentuh surga. Elsa melangkah ke depan, menundukkan kepala, dan menaikkan doa pembuka yang sederhana namun penuh ketulusan. Tepat setelah ucapan “Amin” bergema, Denis Imanuel mengambil alih peran memimpin lagu pujian. Suara lantang anak-anak pedalaman ini menyanyikan pujian memecah kesunyian alam Tumbang Manangei, membuktikan bahwa sukacita sejati tidak ditentukan oleh seberapa megah gedung gerejanya.
Langkah pelayanan hari itu dipandu oleh sosok guru PAK yang luar biasa dedikasinya, Ibu Hamnie. Di bawah bimbingannya, Denis Imanuel kembali berdiri untuk membacakan nas Alkitab dari kitab Pengkhotbah 2:13-15, dengan perikop “Hikmat dan kebodohan sia-sia belaka.” Mendengar seorang anak kelas 5 SD di pelosok negeri dengan fasih mengeja ayat-ayat hikmat Salomo adalah sebuah tamparan kasih bagi kita yang sering mengeluh di tengah kemudahan kota.
Ibu Hamnie kemudian merajut ayat tersebut ke dalam tema pelajaran yang sangat relevan dan menyentuh: Pemeliharaan Allah dalam keluarga. Di tengah tantangan hidup pedalaman yang seringkali keras dan tak menentu, Ibu Hamnie mengajarkan bahwa mengandalkan kepintaran atau kekuatan manusia pada akhirnya adalah kesia-siaan belaka jika tidak ada campur tangan Tuhan. Harapan dan pemeliharaan sejati hanya datang dari Allah, Sang Penjaga keluarga mereka di tengah rimba Kalimantan. Anak-anak mendengarkan dengan mata berbinar, meresapi bahwa Tuhan selalu hadir di meja makan dan ruang tamu rumah panggung mereka.
Momen persembahan pun tiba. Tangan mungil Millka dengan cekatan dan penuh senyum mengedarkan kantong persembahan syukur. Beberapa keping uang logam dan lembaran lecek yang dimasukkan ke dalam kantong itu mungkin tidak besar nilainya di mata dunia, tetapi di mata Tuhan, itu adalah persembahan janda miskin yang berbau harum. Persekutuan indah ini akhirnya ditutup dengan doa pulang yang dipimpin langsung oleh Ibu Hamnie, memohon penyertaan Tuhan atas langkah kecil delapan pahlawan iman ini untuk kembali ke keluarga mereka masing-masing.
Sahabat, melihat Queena, Sandi, Milka, Danil, Pina, Arsa, Denis, dan Elsa bernyanyi hari ini adalah bukti nyata bahwa ladang pelayanan di pedalaman Kalimantan Tengah sudah menguning. Yayasan Damar Kasih Indonesia (YDKI) terus berkomitmen untuk hadir, merangkul, dan memastikan anak-anak ini tidak pernah merasa dilupakan oleh peradaban, terlebih oleh kasih Kristus.

Bagikan cerita dari Tumbang Manangei ini. Biarkan dunia tahu bahwa di pelosok negeri, ada anak-anak yang sedang berdoa untuk keluarga mereka, dan mungkin tanpa sadar, sedang mendoakan kita semua. Terus dukung pelayanan relawan misionaris YDKI dalam doa dan daya, agar terang kasih Tuhan terus menyala di setiap sudut terdalam bumi Nusantara.
Video lengkap dapat dilihat pada akunt Facebook Damar Kasih Indonesia. (yes)
