Tumbang Manangei – Salam damai sejahtera dari kami, para volunteer misionaris Yayasan Damar Kasih Indonesia (YDKI). Hari ini, Kamis, 23 Juli 2026, tepat pukul 09.30 WIB, kami ingin membagikan sebuah cerita yang menggetarkan hati dari bilik kelas kayu yang sederhana di SDN Tumbang Manangei, pedalaman Kalimantan Tengah.

Maafkan kami karena kali ini kami tidak bisa melampirkan video kemeriahan ibadah anak-anak ini. Sinyal internet di pedalaman sini sangat terbatas dan tidak mampu untuk mengirimkan data/file yang besar. Namun, kami harap ketiadaan video tidak mengurangi rasa haru dan bangga melihat semangat mereka. Sebagai gantinya, teman-teman bisa melihat potret ketulusan mereka melalui foto yang berhasil kami unggah. Lihatlah wajah-wajah polos di dalam kelas berdinding papan kayu hijau itu—di situlah harapan dan iman bertumbuh subur.
Pagi ini, Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) kami yang luar biasa, Ibu Hamnie, bersiap memberikan pelajaran dengan tema yang sangat penting: “Manusia Jatuh Dalam Dosa”. Namun, sebelum masuk ke materi, ruang kelas yang sederhana ini disulap menjadi “Gereja Kecil”. Ya, kami mengadakan kebaktian persekutuan singkat!
Suasana begitu syahdu. Ibadah dibuka dengan doa yang dipimpin langsung oleh Bu Hamnie. Kemudian, suara nyanyian pujian memecah keheningan hutan Kalimantan. Pujian ini dipimpin dengan penuh semangat oleh Elsa (Kelas 5).
Tibalah saatnya mendengarkan Firman Tuhan. Pembacaan Alkitab dibawakan dengan lantang oleh Denis Imanuel (Kelas 5), yang terambil dari Mazmur 27:1-3, dengan perikop: “Aman dalam Perlindungan Allah”.
Mari kita renungkan sejenak ayat-ayat luar biasa yang dibacakan Denis pagi ini, yang sangat relevan dengan tema pelajaran hari ini:
Ayat 1: “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”
Maknanya: Di tengah keterbatasan pedalaman, rimbunnya hutan, atau kelamnya dunia akibat dosa (sesuai tema PAK hari ini), Tuhan adalah satu-satunya sumber cahaya dan keselamatan kita. Anak-anak ini diajarkan untuk tidak takut pada apapun—baik kegelapan harfiah maupun kegelapan kuasa dosa—karena Tuhan adalah benteng pertahanan yang kokoh.
Ayat 2: “Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh.”
Maknanya: Musuh terbesar manusia seringkali adalah godaan dan dosa yang berusaha menjatuhkan kita. Namun, janji Tuhan pasti. Siapa pun atau apa pun yang berniat buruk dan mencoba merusak iman anak-anak ini, pada akhirnya akan gagal dan hancur, karena perlindungan Tuhan sempurna atas umat-Nya.
Ayat 3: “Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya.”
Maknanya: Ini adalah deklarasi iman yang luar biasa! Meskipun anak-anak Tumbang Manangei ini “dikepung” oleh keterbatasan fasilitas, kemiskinan, dan sulitnya akses kehidupan, hati mereka tidak gentar. Mereka diajarkan untuk memiliki iman yang tak tergoyahkan. Peperangan rohani melawan dosa mungkin berat, tetapi mereka dilatih untuk tetap percaya kepada Kristus.
Setelah renungan yang menguatkan itu, kantong persembahan syukur diedarkan oleh Arsa (Kelas 4). Jangan bayangkan persembahan dengan nominal besar, tetapi lihatlah nilai ketulusan dari tangan-tangan mungil yang rindu memberi untuk Tuhan. Ibadah pun ditutup dengan doa syukur dan doa pulang oleh Bu Hamnie.
Tahukah Anda berapa jumlah murid yang hadir dalam persekutuan indah ini? Hanya beberapa jiwa, namun di mata Tuhan, mereka sangat berharga: Kelas 1: Queenara Kalysta
Kelas 2: Milka dan Daniel
Kelas 3: Vino
Kelas 4: Arsha (Arsa)
Kelas 5: Denis Imanuel dan Elsa
Meski dalam satu ruangan kelas tergabung berbagai tingkat usia karena keterbatasan, semangat belajar dan beribadah mereka melampaui anak-anak yang memiliki fasilitas mewah di kota.
Sahabat, mari kita dukung dan doakan pelayanan Yayasan Damar Kasih Indonesia (YDKI), Ibu Hamnie, dan anak-anak penerus generasi gereja di SDN Tbg Manangei ini. Ketiadaan sinyal internet mungkin memutus koneksi kami dengan dunia luar sesaat, tetapi sinyal kasih Tuhan tak pernah putus menyertai pedalaman Kalimantan.
Bagikan kisah ini (Share) agar lebih banyak orang yang terberkati dan tergerak hatinya untuk mendoakan pelayanan misi di pelosok Nusantara!
“Karena dari pedalaman, puji-pujian bagi Tuhan akan terus bergema!” (yes)
