TUMBANG MANANGEI – Pagi yang cerah di pedalaman Kalimantan Tengah, tepatnya pada hari Kamis, 1 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB, sebuah pemandangan yang menggetarkan hati terjadi di SDN Tumbang Manangei. Di dalam sebuah ruang kelas berdinding kayu papan berwarna hijau yang sederhana, dengan cahaya matahari pagi yang menembus celah ventilasi bergaris,  sebagai relawan misionaris Yayasan Damar Kasih Indonesia (YDKI) menyaksikan langsung semangat luar biasa dari anak-anak Tuhan.

Walaupun belajar di tengah keterbatasan fasilitas dan duduk di bangku kayu yang bersahaja dengan seragam batik mereka, semangat belajar 7 jiwa berharga ini tak pernah surut. Kelas Pendidikan Agama Kristen (PAK) pagi ini istimewa karena menggabungkan beberapa tingkatan kelas sekaligus. Hadir pagi itu: si kecil Queena Kalista dan Sandi (Kelas 1), Milka (Kelas 2), Pino (Kelas 3), Arsa (Kelas 4), serta Elsa dan Denis Imanuel Causesa (Kelas 5).

Kebaktian Persekutuan kecil kami dimulai dengan nyanyian pujian syahdu yang dipimpin langsung oleh guru PAK kebanggaan mereka, Ibu Hamnie, dan dilanjutkan dengan doa pembuka yang dinaikkan dengan begitu tulus oleh Denis Imanuel. Suasana semakin memberkati ketika Milka mengedarkan kantong persembahan syukur. Mengajarkan rasa syukur di tengah keterbatasan adalah wujud iman yang nyata.

Ibu Hamnie kemudian memimpin pembacaan Alkitab yang terambil dari Yesaya 1:10-13 dengan perikop “Ibadah Sejati”. Sesuai dengan tema besar hari ini yaitu “Bertobat”, Ibu Hamnie menyampaikan materi yang luar biasa dan disesuaikan untuk kelas rangkap ini.

Di papan tulis putih, Ibu Hamnie menuliskan dan menjelaskan materi “Pengertian Bertobat” khusus untuk kelas 4 dan 5. Beliau dengan tegas namun penuh kasih mengajarkan bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa yang berujung pada maut, dan bertobat adalah satu-satunya cara untuk menerima keselamatan dari Tuhan. Beliau menekankan bahwa bertobat berarti menyesali dosa, berjanji tidak mengulanginya lagi, meninggalkan kehidupan yang lama, dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Lebih dalam lagi, Ibu Hamnie mengajarkan bahwa pertobatan yang sejati harus terlihat secara nyata dari perubahan cara berpikir, bertindak, dan bertutur kata sehari-hari.

Sementara itu, untuk menanamkan kasih sejak dini kepada adik-adik kelas 1, 2, dan 3, Ibu Hamnie memberikan materi bertema “Kita Bersaudara”. Beliau mengajarkan wawasan kebangsaan dan toleransi dengan mengenalkan 6 agama yang diakui di Indonesia, yaitu Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Melalui sebuah cerita inspiratif tentang empat anak bersahabat yang berbeda agama, Ibu Hamnie menanamkan nilai penting untuk saling mengasihi, menghormati hari raya saudara yang berbeda keyakinan, dan tidak saling mengejek apalagi mengganggu ibadah orang lain.

WhatsApp Image 2026 10 01 At 09.08.30

Pertemuan yang penuh berkat ini pun ditutup dengan doa pulang yang dipimpin kembali oleh Ibu Hamnie.

Sahabat terkasih, pelayanan pedalaman bersama YDKI selalu membawa satu teguran manis bagi kita yang hidup di kota: Ibadah sejati tidak membutuhkan gedung yang mewah. Ibadah sejati adalah hati yang mau bertobat dan mengasihi sesama saudara tanpa membeda-bedakan.

Mari dukung terus pelayanan Yayasan Damar Kasih Indonesia (YDKI)! Terus doakan pengabdian Ibu Hamnie serta masa depan cerah bagi Denis, Milka, Queena, Sandi, Pino, Arsa, dan Elsa.

Bantu SHARE postingan ini agar lebih banyak orang yang terberkati oleh semangat adik-adik kita di SDN Tbg Manangei!
Video lengkap dapat dilihat pada akunt Facebook Damar Kasih Indonesia. (yes)